Rabu, 26 Februari 2014

PEMANFAATAN RIZOBAKTERI SEBAGAI PENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) DI LAPANGAN
Oleh : Abd. Rahim, Yonathan, D. Tulak


I.                   PENDAHULUAN
Hawar daun bakteri  (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae  merupakan salah satu penyakit utama pada padi sawah di Indonesia (Hifni dan Kardin, 1998). Di Indonesia kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 30 – 50% khususnya pada varietas-varietas rentan seperti pada varietas IR64. Penyakit ini semakin berkembang jika pertumbuhan tanaman padi tidak optimal karena kondisi lahan yang kurang subur. Di Sulawesi Tenggara serangan penyakit hawar daun bakteri telah dilaporkan di sentra pertanaman padi seperti di Kabupaten  Konawe, Kolaka, Konawe Selatan (Khaeruni et. al. 2011).
Upaya pengendalian penyakit HDB yang umum dilakukan adalah penggunaan varietas tahan (Rao et al,.2003). Penggunaan varietas tahan belum memberikan hasil yang memuaskan karena  XOO  mempunyai tingkat keragaman patotipe yang tinggi yang disebabkan oleh faktor lingkungan, varietas yang digunakan dan tingkat mutabilitas gen yang tinggi (Keller et al,.2000), Hasil penelitian Rahim et. al (2012), menunjukkan bahwa dari enam varietas komersial yang diuji di lapangan, belum ada yang tahan terhadap XOO patotipe IV. Oleh karena itu pengendalian hayati berupa penggunaan rizobakteri indigenous penginduksi ketahanan tanaman dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengendalian penyakit hawar daun bakteri yang ramah lingkungan.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteri(PGPR) mampu memacu pertumbuhan tanaman sekaligus mengendalikan  patogen tanaman sehingga  mengurangi pemakaian senyawa kimia sintesis secara berlebihan, baik dalam penyedia hara tanaman (biofertilizer) maupun dalam pengendalian patogen tanaman(bioprotectan) (Sutariati, 2006; Khaeruni et. al. 2010). Rhizobakteri selain mampu mengendalikan pathogen tular tanah juga dilaporkan dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit virus dan penyakit filosfer lainnya.  Hasil kajian Syair (2012), menunjukkan bahwa penggunaan rizobakteri isolat P1.1a dan PKLK5 yang diisolasi dari pertanaman padi sehat mampu memacu pertumbuhan dan menginduksi ketahanan tanaman padi IR64 terhadap penyakit HDB pada skala rumah kasa.
Oleh karena itu, untuk evaluasi kemampuan rizobakteri indigenous sebagai agensia pemacu pertumbuhan dan penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit HDB di skala lapangan  perlu dilakukan untuk dapat dijadikan acuan rekomendasi sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit HDB pada tanaman padi di Sulawesi Tenggara.




BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan persawahan petani yang memiliki sejarah  endemik dengan penyakit HDB di Desa Puday Kecamatan Wonggeduku Kab. Konawe. Penelitian akan berlangsung dari bulan Maret sampai Juni 20123.
Rancangan Percobaan
 Penelitian di desain menggunakan Rancangan Faktorial yang diatur dalam Rancangan Acak KelompokFaktor pertama adalah jenis rizobakteri (R), yang terdiri dari 4 taraf  perlakuan yaitu: Tanpa isolat rizobakteri (R0) ; isolat P11a (R1), isolat PKLK5 (R2), dan kombinasi isolate P11a dan PKLK5 (R3). Faktor kedua adalah Varietas Tanaman Padi yaitu :  varietas IR64 (V1)  dan, varietas Cisantana (V2), sehingga terdapat 8 kombinasi perlakuan  yang diulang  sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 24 unit (petak) percobaan.
Pelaksanaan Penelitian
(1)   Biopriming benih dengan rizobakteri
Tahapan ini dilakukan biopriming pada benih padi IR64 dan Cisantana dengan rizobakteri sesuai dengan perlakuan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (Syair et. al., 2012).
(2)   Persiapan lahan
Lahan terlebih dahulu diolah dengan traktor lalu diratakan dengan garuh dan dibuat petakan percobaan sebanyak 24 unit dengan ukuran 200 cm (p) x 150 cm (l)  x 30 cm (t). Jarak antara petak dalam lajur yang sama 30 cm, sedangkan jarak antar lajur 100 cm (lihat lay out percobaan).
(3). Penanaman Benih.
     Benih yang telah diberi perlakuan biopriming terlebih dahulu diperam selama 2 hari hingga membentuk tunas kecambah. Benih selanjutnya ditanam  di pot plastik berdiameter 15 cm yang telah diisi dengan tanah bercampur pupuk kandang (4:1 v/v) yang telah disterilkan. Bibit yang telah siap pindah tanam dicabut dan dibersihkan perakarannya dari sisa tanah yang melekat lalu direndam dalam suspensi rizobakteri selama 30 menit sesuai perlakuan sebelum penanaman dilakukan, sementara bibit tanpa perlakuan rizobakteri hanya direndam dalam air bersih dengan waktu yang sama. Setelah perendaman bibit dalam suspensi risobakteri selesai, langsung dilakukan penanaman maksimal 2 anakan perlubang sesuai perlakuan dengan jarak tanaman 20 x 20 cm.
(4). Inokulasi Patogen
Xanthomonas oryzaepvoryzae yang digunakan dalam penelitian ini ialah isolat XOO patotipe IV hasil isolasi dari pertanaman padi di Sulawesi Tenggara (Koleksi Lab. IHPT Unhalu). Penyiapan dilakukan dengan mensupensikan isolat murni XOO umur 48 jam dalam akuades sterildengan konsentrasi 108 CFU/ml. Inokulasi dilakukan pada tanaman yang berumur 45 hari setelah tanam dengan 2 jenis metode pelukaan dengan gunting yang telah direndam dalam suspensi patogen
(5). Pengamatan
            Pengamatan terhadap respon perlakuan ditentukan pada 5 rumpun tanaman yang menyebar secara diagonal pada setiap unit/petak perlakuan, sehingga secara keseluruhan terdapat 120 rumpun tanaman.  Parameter yang diamati meliputi :



(a)      Jumlah anakan
Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap tanaman sampel   di setiap unit percobaan pada saat 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam.
       Keterangan :  I  =  Intensitas serangan (%),
                             A = panjang daun yang bergejala hawar pada daun sampel,
                             B = panjang keseluruhan daun sampel
Pengamatan dilakukan pada umur  2, 3 dan 4 minggu setelah inokulasi pada 5 lembar daun pada 5 tanaman uji pada setiap unit perlakuan.
(c) Jumlah anakan
Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap tanaman sampel   di setiap unit percobaan pada saat 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah semai pada
(d) Hasil Panen.
Hasil panen yang di amati meliputi : jumlah malai, berat malai pada saat panen, berat gabah kering panen dan berat gabah per 1000 butir
Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam, apabila dalam analisis ragam terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf nyata α = 5 %.



II.                HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
Dari hasil analisa data terhadap setiap perlakuan yang didasari oleh hasil pengamatan dilapang,didapatkan hasil sebagai berikut :
a.      Pengaruh setiap perlakuan terhadap rata-rata jumlah anakan
Hasil pengamatan terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan  umur  2 mst – 6 mst dapat dilihat pada tabel lampiran 1 – 3 dan hasil analisis sidik ragamnya pada tabel lampiran 1a – 3a.Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa,tidak terjadi perbedaan nyata pada umur 2 mst terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan,namun pada umur 4 mst terjadi perbedaan nyata,dimana perlakuan kombinasi isolat (R3)  terhadap  varietas  uji (V1) dengan rata-rata jumlah anakan 17.800 memberikan pengaruh nyata  terhadap perlakuan V2R3,V1R1,V1R2,V2R0 dan V1R0, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2R2 dan V2R1,sehingga diindikasikan ada hubungan interaksi antar keduanya.Pada umur 6 mst,terjadi pengaruh nyata terhadap isolat R1 pada varietas V2 dengan beberapa isolat lainnya,yaitu V1R1 dan V1R0, namun tidak berbeda nyata dengan V1R3,V1R2,V2R2 dan V2R3. Apabila dikonversi  setiap isolat terhadap jumlah anakan dan pengaruhnya terhadap varietas uji (lihat tabel.a.2), nampak bahwa, pada umur 4 mst isolat R3 memberikan pengaruh nyata terhadap isolat R0,yaitu 16.0333, tapi tidak berbeda nyata dengan isolat R1 dan isolat R2.Sedangkan pada umur 6 mst,terlihat bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh nyata terhadap R0,yaitu 18.7667 dan R0 15.6667,namun tidak berbeda nyata dengan R2 dan R3.
Terhadap varietas,keduanya tidak menunjukkan perbedaan nyata,baik varietas IR.64 (V1) maupun varietas cisantana (V2). Hasil uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap isolat terhadap perlakuan kelompok rata-rata jumlah anakan dan pengaruh nyata antar isolat serta pengaruhnya terhadap varietas, disajikan pada tabel a.1 dan tabel a.2  di bawah ;
Tabel a.1.    Pengaruh setiap  perlakuan terhadap rata-rata  jumlah anakan , umur 2 mst, 4 mst dan 6 mst
Perlakuan     Rata2             DMRT
                   JA. 2 mst           0.05                                           
Perlakuan     Rata2         DMRT
                   JA. 4 mst       0.05                                          
Perlakuan      Rata2          DMRT
                    JA.6 mst         0.05                                        
V2R3          6,9000 a
 V1R3          17.800 a     
V2R1          20.000a      
V1R1          6.8000 a           2=8617
V2R2         15.333 ab      2=2.737
V1R3          19.267ab        2=3.003
V1R2          6.7000 a           3=9030
V2R1         15.067 ab      3=2.686
V1R2          19.000ab        3=3.147
V2R1          6.7000 a           4=9284
V2R3         14.267 b          4=2.948
V2R2          18.333ab        4=3.235
V2R2          6.6000 a           5=9456
V1R1         13.933 b       5=3.003
V2R3          17.933abc       5=3.295
V1R3          6.5000 a           6=9578
V1R2         13.267 b       6=3.042
V1R1          17.533abc       6=3.369
V1R0          6.4667 a           7=9666
V2R0         13.000 b       7=3.070
V1R0          16.467cb        7=3.369
V2R0          6.0667 a           8=9734
V1R0         12.933 b       8=3.091
V2R0          14.867c         8=3.392
Ket. : -  Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak   berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-     V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.





Tabel a.2.    Konversi setiap isolat (R) terhadap rata-rata jumlah anakan dan     pengaruhnya terhadap varietas uji umur 4 mst dan 6 mst.
Isolat(R)     rata2 jlh anakan      DMRT
                       4 mst                     0.05
Isolat(R)   Rata2 jlh anakan    DMRT
                             6 mst               0.05
 
    R3              16.0333a
    R1              14.5000ab           2=1.284
    R2              14.3000ab           3=1.346
    R0              12.9667b            4=1.383

  
    R1            18.7667a
    R2            18.6667ab           2=2.460
    R3            18.6000ab           3=2.578
    R0            15.6667b            4=2.651 
Varietas     rata2 jlh anakan       DMRT
                          4 mst                   0.05
Varietas    rata2 jlh anakan      DMRT
                         6 mst                  0.05
  
   V1               14.4833a
    V2               14.4167a            2=1.368

  
    V1           18.0667a
    V2           17.7833a             2=1.502
Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang    sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-   V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.

b.      Pengaruh setiap perlakuan isolat terhadap perkembangan HDB (IS) pada  varietas uji
Hasil pengamatan intensitas serangan (tabel lampiran4 - 6) dan hasil analisis sidik ragam (tabel lampiran 4a – 6a) menujukkan bahwa, terjadi perbedaan nyata pada setiap minggu pengamatan,kecuali pada pengamatan 87 hst tidak memberikan  pengaruh  nyata antar varietas.Pada umur 59 hst dan 73 hst terjadi pengaruh nyata dan sangat nyata antar setiap perlakuan,baik perlakuan kelompok,kombinasi perlakuan,varietas,isolat dan interaksinya. Hasil uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap perlakuan  terhadap perkembangan HDB (IS)  pada varietas uji,disajikan pada tabel b.1 ;




Tabel b.1. Pengaruh setiap perlakuan  terhadap  perkembangan HDB (IS) pada  varietas uji,umur 59 hst,73 hst dan 87 hst.
Perlakuan      Rata2              DMRT
                      IS (%)               0.05
                      59 Hst
Perlakuan      Rata2          DMRT
                      IS (%)          0.05
                      73 Hst
Perlakuan      Rata2          DMRT
                      IS (%)          0.05
                      87 Hst
V2R0        10.5467a         
V1R0        23.783a
V2R0          40.500a
V1R0          9.6100ab         2=1.816
V2R0        21.533a         2=3.479
V1R0          34.647b        2=4.015
V1R2          8.6633abc        3=1.903
V1R2        14.647b         3=3.646
V1R1          22.953c        3=4.207
V1R3          8.4133bc         4=1.957
V1R1        14.390b         4=3.794
V2R3          19.743cd       4=4.325
V1R1          8.3267bc         5=1.993
V2R2        13.673b         5=3.818
V1R2          19.123cd       5=4.405
V2R3          7.6733bc         6=2.019
V2R3        13.270b         6=3.867
V2R2          18.827cd       6=4.462
V2R1          7.2100cd         7=2.037
V1R3        12.913b         7=3.903
V2R1          18.640cd       7=4.503
V2R2          5.6233d          8=2.051
V2R1        12.507b         8=3.930
V1R3          18.300d         8=4.535
Ket. :  Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak   berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-   V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.


Tabel b.2. Konversi setiap isolat terhadap  intensitas serangan  (%) HDB dan pengaruhnya terhadap varietas,umur 59 Hst,73 Hst dan 87 Hst.
Isolat(R)         IS(%)          DMRT
                       59 Hst           0.05
Isolat(R)       IS(%)       DMRT
                     59 Hst        0.05
Isolat(R)        IS(%)         DMRT
                     59 Hst           0.05
 
    R0            10.0783a
    R3              8.0433b        2=1.284
    R1              7.7683b        3=1.346
    R2              7.1433b        4=1.383

  
    R0           22.658a
    R2           14.160b      2=2.460
    R1           13.448b       3=2.578
    R3           13.092b       4=2.651 
  
    R0            37.573a
    R1            20.797b        2=2.839
    R3            19.022b        3=2.975
    R2            18.975b        4=3.058
Varietas          IS(%)           DMRT
                       59 Hst           0.05
Varietas        IS(%)        DMRT
                     59 Hst         0.05
Varietas        IS(%)          DMRT
                     59 Hst           0.05
  
   V1              8.7533a
     V2              7.7633b        2=9080

  
    V1           16.4333a
    V2           15.2458a     2=1.740
 
   V2            24.4275a
   V1            23.7558a       2=2.007
Ket. :  -  Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang    sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-    V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 =   isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.


Hubungan antara perlakuan kelompok(tabel b.1) dan konversi setiap isolat serta pengaruhnya terhadap varietas (tabel.b.2),nampak bahwa,pada umur 59 Hst, konversi isolat R2  memberikan   intensitas serangan HDB terendah dibanding isolat lainnya,yaitu 7.1433%, dan berdasarkan hasil analisis DMRT  menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan isolat R0.namun tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 da R3.Apabila dihubungkan dengan perlakuan pada tabel .b.1,  terlihat pengaruh nyata antara isolat R2 pada varietas cisantana (V2) memberikan intensitas serangan terendah,yaitu 5,6233% dibanding perlakuan V2R3, V1R1, V1R3, V1R2, V1R0 dan V2R0.Pengaruh nyata lainnya terjadi pada varietas,dimana intensitas serangan HDB pada varietas cisantana (V2) lebih rendah dibanding varietas IR 64 (V1).
Umur 73 HST intensitas serangan terendah terjadi pada varietas cisantana dengan isolat P11a (V2R1) yaitu 12,51%, namun  tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3, V2R3, V2R2, V1R1 dan V1R2. Intensitas serangan tertinggi terjadi pada semua varietas yang diujikan tanpa isolat (V1R0 dan V2R0) yang masing-masing menunjukkan angka seranganX. oryzaepv. oryzae yaitu 23,8% dan 21,5% yang berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat nampak ketiga isolat,yaitu R1,R2 dan R3 tidak menunjukkan perbedaan nyata,tetapi isolat R3 menunjukkan intensitas serangan yang lebih rendah.
Pengamatan 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan V1R3 memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu 18,30% yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan V1R2, V2R1, V2R2, V2R3, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada pengamatan ini persentase intersitas serangan tertinggi terjadi pada perlakuan V2R0 yaitu 40,5% yang berbeda  nyata dengan perlakuan lainnya. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat,nampak isolat R2 menunjukkan intensitas`serangan yang lebih rendah, yaitu 18.975%  diikuti isolat R3 19.022, R1 20.797 dan R0 37.573.
c.       Pengaruh perlakuan isolat terhadap jumlah malai, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji.
Hasil pengambilan sampel terhadap jumlah malai,berat malai, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji serta sidik ragamnya pada semua perlakuan  dapat dilihat pada tabel lampiran 7ab, 8ab,9ab dan 10ab..Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa, dari 5 parameter perlakuan yang diujikan  terhadap jumlah malai,menunjukkan perbedaan  yang nyata dan sangat nyata terhadap  semua perlakuan yang diujikan.Pengaruh yang sangat nyata lainnya terjadi pada berat malai dan berat gabah kering panen,yaitu parameter perlakuan kelompok,isolat dan interaksinya.Sedangkan pada berat gabah 1000 biji tidak memberikan pengaruh yang  nyata antar parameter uji, kecuali pada perlakuan isolat. Hasil uji DMRT taraf 0.05 pengaruh nyata antara perlakuan isolat terhadap jumlah malai, berat malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji disajikan pada tabel.c.1 dibawah.



Tabel.c.1. Pengaruh setiap perlakuan isolat terhadap jumlah malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji.
Perlakuan       Jlh malai           DMRT
                                                   0.05   
Perlakuan       Berat malai        DMRT
                             (g)                  0.05   
V2R2             25.4000a
V1R3             23.6667ab         2=1.792
V2R1             23.0667b          3=1.878
V2R3             21.8000b          4 =1.931
V2R0             17.8667c          5=1.967
V1R2             17.7333c          6=1.992
V1R1             16.4667c          7=2.010
V1R0             16.2000c          8=2.025
V2R2             45.200a
V1R3             42.800a           2=3.196
V2R1             42.733a           3=3.348
V2R3             42.133a           4=3.443
V2R0             37.867b          5=3.507
V1R2             36.933bc            6=3.552
V1R1             34.233cd          7=3.585
V1R0             32.467d          8=3.610
Perlakuan       Brt gabah           DMRT
                    krg panen (g)          0.05   
Perlakuan      Brt gabah           DMRT
                     1000 bj (g)            0.05   
V2R1         1686.67a
V2R3         1683.33a             2=92.0
V1R2         1603.33ab           3=96.0
V1R3         1556.67bc                4=99.1
V2R2         1525.00bcd          5=100.9
V1R1         1505.00bcd          6=102.2
V2R0         1488.33cd           7=103.2
V1R0         1435.00d             8=103.9
V2R3          28.000a
V2R2          27.667ab         2=3.072
V1R1          27.667ab         3=3.219
V1R3          27.667ab         4=3.310
V1R2          26.667ab         5=3.371
V2R1          26.667ab         6=3.415
V2R0          24.667ab         7=3.446
V1R0          24.333b          8=3.470
Ket. :  Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang    sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-    V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 =   isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.

Tabel. c.2.     Konversi setiap isolat terhadap jumlah malai,berat malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji serta pengaruhnya terhadap varietas.
Isolat      JM         DMRT
                               0.05
Isolat     BM       DMRT
              (g)          0.05
Isolat     BGKP    DMRT
                (g)          0.05
Isolat   BG1000    DMRT
              Biji(g)       0.05
R3      22.7333a
R2      21.5667a    2=1.267
R1      19.7667b    3=1.328
R0      17.0333c    4=1.365
R1      42.433a
R2      40.900a    2=2.260
R3      40.333a    3=2.368
R0      33.350b    4=2.434
R3     1620.00a
R1     1595.83a   2=65.03
R2     1564.17a   3=68.14
R0     1461.67b   4=70.06
R3      27.833a 
R2      27.167a    2=2.172
R1      27.167a    3=2.276
R0      24.500b    4=2.340
Var.        JM          DMRT
                                0.05
Var.     BM          DMRT
             (g)            0.05
Var.      BGKP    DMRT
                (g)         0.05
Var.    BG 1000   DMRT
             Biji(g)       0.05
V2      22.0333a
V1      18.5167b     2=8961
V2     39.7750a
V1     38.7333a   2=1.598  
V2    1595.83a
V1    1525.00b    2=45.98
V2    26.7500a
V1    26.5833a    2=1.536
Ket. :  Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang    sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-    V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 =   isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
-   JM=jumlah malai,BM=berat malai,BGKP=berat gabah kering panen,BG=berat gabah 1000 biji.
           
Tabel.c.1 diatas memperlihatkan  jumlah malai tertinggi terjadi pada perlakuan V2R2 dengan rata-rata jumlah malai 25,40 yang  tidak berbeda  nyata dengan perlakuan  V1R3 namun berbeda  nyata dengan perlakuan V2R1 dan V2R3, sedangkan perbedaan yang sangat nyata terjadi pada perlakuan V1R0, V1R1, V1R2 dan V2R0.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (lihat tabel c.2) nampak bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap isolat R1 dan R0,yaitu rata-rata jumlah malai 22.7333,namun tidak berbeda nyata dengan isolat R2. Terhadap varietas, keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata,dimana varietas cisantana (V2) berbeda sangat nyata dengan varietas IR 64 (V1).
Pengaruh isolat terhadap berat malai pada masing – masing perlakuan  (lihat tabel.c.1) memperlihatkan bahwa , perlakuan V2R2 memberikan pengaruh yang sangat nyata dengan perlakuan V2R3,V1R2,V2R0 dan V1R0,dengan nilai rata-rata 45.200,tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3,V1R1 dan V2R1. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat,nampak bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap isolat R0,dengan nilai rata-rata 42.433,tapi tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R2 dan isolat R3.Pada uji berat malai ini,kedua varietas tidak menunjukkan perbedaan nyata.
Berat gabah kering panen,memperlihatkan perlakuan V2R1 memberikan  rata-rata berat gabah kering panen 1686.67 gram yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan V2R3 dan V1R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V2R0 danV1R0 yang menunjukkan nilai rata-rata terendah yaitu 1488.33 gram dan 1435,0 gram. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (lihat tabel c.2) nampak bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang nyata terhadap R0,yaitu 1620.00 gram,tapi tidak mnunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 dan R2. Pada uji berat gabah kering panen ini,kedua varietas memperlihatkan pengaruh nyata,dimana varietas cisantana (V2) memberikan pengaruh nyata terhadap varietas IR 64 (V1).
Pengaruh isolat terhadap  berat gabah 1000 biji (lihat tabel .c.1) memperlihatkan, perlakuan V2R3 memberikan  nilai rata-rata tertinggi, yaitu 28,000 gram yang berbeda tidak nyata dengan hampir semua perlakuan yang diujikan, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 yang menunjukkan berat gabah 1000 biji terendah dengan nilai rata-rata 24,333 gram.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (tabel.c.2),nampak isolat R3 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap isolat R0,yaitu 27.833 gram,sedangkan isolat R0 memperlihatkan berat gabah 1000 biji terendah, yaitu 24.500 gram.Dengan isolat R2 dan R1 tidak menunjukkan perbedaan nyata. Pada uji  berat gabah 1000 biji ini,kedua varietas tidak memberikan pengaruh nyata.
A.    Pembahasan
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa semua varietas padi yang diinokulasikan X. oryzaepv. oryzae(XOO) memperlihatkan gejala penyakit hawar daun bakteri (HDB),tergantung ketahanan varietas dan perlakuan isolat. Gejala ini ditandai dengan munculnya bercak memanjang dengan tepi bergelombang dari ujung daun yang berkembang sepanjang tepi daun kemudian berkembang menjadi hawar daun dan warna berubah menjadi kuning pucat (Mew, 1988; Liu et al., 2006, Agustiansyah, 2011).
Pengamatan penyakit hawar daun bakteri hasil inokulasi Xoo terhadap varietas uji,mencakup,pengaruh setiap isolat  terhadap jumlah anakan, perkembangan intensitas serangan,jumlah malai,berat malai, berat gabah kering panen, berat gabah 1000 biji dan pengaruhnya terhadap varietas.
Hasil pengamatan pada tabel.a.1 menunjukkan bahwa, pada pengamatan 2 MST tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan. Namun pada pengamatan 4 MST jumlah anakan tertinggi ditunjukkan pada perlakuan V1R3 yaitu dengan rata-rata 17,800 yang berbeda sangat nyata dengan perlakuan tanpa isolat rizobakter. Sedangkan pada pengamatan 6 MST jumlah anakan  tertinggi diperlihatkan pada perlakuan V2R1 dengan rata-rata jumlah anakan  20,000 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R2, V1R3 dan V2R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V2R0 yang menunjukkan jumlah anakan terendah dengan rata-rata  14,867.Apabila  setiap isolat dikonversi dan dihubungkan dengan kombinasi perlakuan, nampak bahwa,pada umur 4 Mst,kombinasi isolat P11a dan PKLK5 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap perlakuan tanpa rhizobakteri,namun pada umur 6 Mst,isolat P11a memperlihatkan rata-rata jumlah anakan tertinggi,yaitu 18.7667,tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi isolat dan isolat PKLK5. Dari hal tersebut,dapat diindikasikan bahwa,diantara isolat-isolat rizobakter yang digunakan, isolat P11a memberikan respon jumlah anakan terhadap varietas cisantana dan  kombinasi isolat P11a + PKLK5 terhadap varietas IR.64. Hasil  penelitian Thakuria et al., (2004) menyatakan bahwa secara langsung rizobakter berkemampuan dalam menyediakan dan memobilisasi penyerapan unsur hara dari dalam tanah, melarutkan fosfor dan menghasilkan hormon tumbuh sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Sedangkan rhizobakteri yang memiliki kemampuan memacu pertumbuhan tanaman digolongkan sebagai rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (Tanuta, 2006). Selain itu penurunan jumlah anakan yang diakibatkan oleh inokulasi X. Oryzaepv. Oryzae dengan pelukaan daun dengan menggunakan gunting yang telah dicelupkan suspensi patogen terlebih dahulu memungkinkan patogen dapat masuk dan menginfeksi jaringan tanaman dengan cepat sehingga dapat mengganggu metabolisme dalam sel dan jaringan tanaman yang berpengaruh terhadap pembentukan anakan dan jumlah daun.   

 Hasil pengamatan menunjukkan, terjadi pengaruh pada setiap perlakuan pada umur 59 HST dimana pada varietas cisantana dengan isolat PKLK5 (V2R2) menunjukkan intensitas penyakit terendah, yaitu 5,6233%, sedangkan untuk varietas cisantana tanpa isolat (V2R0) menunjukkan intensitas penyakit tertinggi yaitu 10,5467%. Namun hal ini tidak berbeda nyata dengan varietas IR64 tanpa isolat (V1R0) yang menunjukkan intensitas penyakit yaitu 9,6100%. Hal ini menunjukkan bahwa, tingkat ketahanan tanaman padi varietas cisantana yang lebih baik dengan perlakuan rizobakter dibandingkan pada tanaman padi tanpa perlakuan rizobakter yang mengindikasikan bahwa perlakuan rizobakter pada benih mampu menginduksi ketahanan tanaman secara sistemik terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae pada umur tersebut. Induksi ketahanan sistemik ialah fenomena terjadinya peningkatan ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen setelah terjadi rangsangan dari luar. Ketahanan ini adalah perlindungan tanaman bukan untuk mengeliminasi patogen tetapi lebih pada aktivitas dari mekanisme pertahanan tanaman (Sticher et al.,1997; Van loon et al., 1998; Durrant nan Dong, 2004).
Hasil penelitian Valled et al., (2004) menjelaskan terjadi peningkatan ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai yang diinduksi dengan perlakuan pada benih sebelum tanam.  Intensitas penyakit pada petak yang diberi perlakuan sebesar 17%, sementara yang tidak diberi perlakuan,hasilnya mencapai 39%, peningkatan ketahanan tanaman tersebut berkaitan dengan terjadinya peningkatan akumulasi asam salisilat di dalam jaringan tanaman, hal ini dibuktikan dengan terjadinya peningkatan kandungan asam salisilat pada tanaman jagung yang memperlihatkan ketahanan terhadap penyakit bulai setelah diinduksi melalui perlakuan pada benih sebelum ditanam.
Hasil pengamatan intesitas penyakit (lihat tabel b.1) pada umur 73 HST menunjukkan bahwa, intensitas penyakit terendah terjadi pada perlakuan varietas cisantana dengan isolat P11a (V2R1) yaitu 12,507%, dimana  perlakuan tersebut lebih tahan terhadap serangan X. oryzae pv. oryzae meskipun tidak berbeda nyata dengan beberapa perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rahim et al., (2010) melaporkan bahwa varietas padi cisantana lebih tahan terhadap infeksi X. oryzaepv. oryzae dibandingkan dengan varietas inpari 10 dan IR64. Tingkat ketahanan varietas  yang diuji terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae diduga dipengaruhi oleh struktur morfologi permukaan daun dimana varietas cisantana memiliki permukaan daun yang halus dibandingkan dengan varietas IR64, serta pengaruh dari pemberian isolat rizobakter pada varietas yang diujikan di lapangan dimana penelitian lainnya menjelaskan bahwa perlakuan interaksi rizobakteri P11a dengan inokulasi X. oryzae pv. oryzae menggunakan metode pencelupan, secara nyata mampu menginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun dengan keparahan penyakit 17,22% (Fitriani, 2013). Hasil pengamatan pada umur 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan V1R3 memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu 18,30% dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2R1 dan beberapa perlakuan lainnya. Apabila masing-masing isolat dikonversi berdasarkan umur tanaman,terlihat bahwa,pada umur 59 Hst ,isolat PKLK5 (R2) menunjukkan intensitas serangan terendah dibanding isolat lainnya,yaitu 7.1433%, Hal ini sinkron dengan interaksi antara varietas dengan isolat,dimana isolat PKLK5 memberikan respon positif terhadap varietas cisantana (V2) dalam menekan intensitas serangan X00. Umur  73 Hst, terlihat konversi isolat R3 memberikan intensitas serangan terendah, yaitu 13,092%, tapi tidak berbeda nyata dengan isolat P11a (R1) dan isolat PKLK5 (R2),namun apabila dilihat dari interaksi antara varietas dengan isolat,nampak bahwa, isolat P11a (R1) memberikan respon ketahanan Xoo terhadap varietas cisantana (R2). Sedangkan pada umur 87 Hst,memperlihatkan konversi isolat PKLK5 (R2) memberikan intensitas terendah,yaitu 18,975%.
 Hal ini mengindikasikan bahwa pada pengamatan ini pengaruh interaksi antara varietas dengan isolat rizobakteri yang diberikan dapat bersimbiosis dengan baik sehingga dapat menurunkan tingkat intensitas seranganX. oryzaepv. oryzaepenyebab penyakit HDB.
Berdasarkan hasil sidik ragam (dilihat pada tabel 1) pada variabel pengamatan jumlah malai menunjukkan berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan. Hasil pada tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah malai tertinggi diperlihatkan pada perlakuan V2R2 yaitu 25,40 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3 yaitu 23,67 namun berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 dan V2R0. Sedangkan pada pengamatan berat gabah kering panen perlakuan V2R3 menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu 1683,33 g yang berbeda sangat nyata terhadap perlakuan  semua varietas tanpa isolat rizobakter. Pada pengamatan Berat gabah 1000 biji hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan V2R3 yaitu 28,00 yang berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 yaitu 24,30. Hal ini membuktikan bahwa pemberian isolat  rizobakter sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman padi yang terserang X. oryzae pv. oryzae. Serangan X. oryzaepv. oryzae pada tanaman padi yang menyebabkan penyakit HDB akan menghambat pertumbuhan pada tanaman padi, karena adanya pengurangan jumlah daun dan dapat mengganggu terjadinya proses fotosintesis sehingga secara tidak langsung menurunkan produksi melalui pengurangan jumlah malai yang terbentuk, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji. Penurunan produksi yang diakibatkan oleh serangan X. oryzaepv. oryzae dapat mencapai 50% sehingga perlu dilakuan pemantauan secara berkala untuk mewaspadai terjadinya serangan X. oryzae pv. oryzae yang dapat menurunkan produksi tanaman padi (Manik, 2005).
V.  KESIMPULAN
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1.      Perlakuan rizobakteri mampu menginduksi ketahanan tanaman padi IR64 dan Cisantana terhadap X. oryzaepv. oryzaejuga
2.      Perlakuan rizobakteri mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi di lapangan
3.      Perlakuan campuran rizobakteri PKLK5 dan P11.a, cenderung meningkatkan induksi ketahanan padi varietas IR64 terhadap X. oryzae pv. oryzaedi lapangan dibandingkan perlakuan rizobakteri secara tunggal, perlakuan ini juga cenderung memperlihatkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang lebih baik dibandingkan pada perlakuan rizobakteri secara tunggal.
B.  Saran
Perlu dilakukan sosialisasi kepada petani padi sawah untuk penggunaan rizobakter agar dapat menekan penurunan hasil produksi padi yang diakibatkan seranganX. oryzaepv. oryzaepenyebab hawar daun bakteri.



DAFTAR PUSTAKA

Keller, B.C. Feuillet, and M. Messmer. 2000. Basic conceps an aplication in resistance breeding. Pp:01 – 160. In : A.J. Slusarenko, R.S.S. Fraser, L.C.  van Loon (eds.). Mechanisms of Resistance to Plant Diseases.Kluwer  Academic  Publisher. London.

Khaeruni A., G.A.K. Sutariati, S. Wahyuni. 2010. Karakterisasi dan uji aktifitas bakteri rizosfer lahan ultisol sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dan  agensia hayati cendawan patogen tular tanah secara in-vitro. Jurnal Hama dan Penyakit Tanaman TropikaVol 10(2):123-130

Khaeruni A., T. Wijayanto, Syair. 2011. Determinasi Patotipe dan Virulensi Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Serta Pencarian Sumber Gen Ketahanan Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri Pada Padi Lokal di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Laporan Kemajuan Penelitian Fundamental. Lembaga Penelitian Universitas Haluoleo. Kendari.

Rahim, A. Khaeruni, T. Wijayanto. 2012. Reaksi ketahanan beberapa Varietas Padi Komersial Terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae isolat Sulawesi Tenggara. Makalah pada Seminar Nasional Bidang Perlindungan Tanaman, Kendari, 21-22 Mei 2012.

Rao, K.K,. K.K. Jena, and M.L. Narasu. 2003. Molecular Tagging of a New Bacterial Blight Resistence Gene in Rice Using RAPD and SSR Markers (On line) http//dspace.irri.org-8080/dspce/bitst-ream/123456789/1308/1/ Kameswara %20RAO,%20K,%20Molecular% 20tagging.pdf.

Sutariati, G A K., 2006. Perlakuan Benih dengan Agens Biokontrol untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa, Peningkatan Hasil dan Mutu Benih Cabai, Cendawan Patogen. Agriplus. 15:272-281.

Syair, Rahman A, Asniah, Khaeruni A. 2012. Pemanfaatan rizobakteri indigenous untuk memacu pertumbuhan dan menginduksi ketahanan padi IR64 terhadap penyakit hawar daun bakteri. Laporan hasil penelitian BOPTN Universitas Haluoleo






A