PEMANFAATAN RIZOBAKTERI SEBAGAI PENGINDUKSI
KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) DI LAPANGAN
Oleh : Abd. Rahim, Yonathan,
D. Tulak
I.
PENDAHULUAN
Hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae merupakan salah satu penyakit utama pada padi
sawah di Indonesia (Hifni dan Kardin, 1998). Di Indonesia kehilangan hasil
akibat penyakit ini dapat mencapai 30 – 50% khususnya pada varietas-varietas
rentan seperti pada varietas IR64. Penyakit ini semakin berkembang jika
pertumbuhan tanaman padi tidak optimal karena kondisi lahan yang kurang subur.
Di Sulawesi Tenggara serangan penyakit hawar daun bakteri telah dilaporkan di
sentra pertanaman padi seperti di Kabupaten
Konawe, Kolaka, Konawe Selatan (Khaeruni et. al. 2011).
Upaya pengendalian penyakit
HDB yang umum dilakukan adalah penggunaan varietas tahan (Rao et al,.2003). Penggunaan varietas tahan
belum memberikan hasil yang memuaskan karena
XOO mempunyai tingkat keragaman
patotipe yang tinggi yang disebabkan oleh faktor lingkungan, varietas yang
digunakan dan tingkat mutabilitas gen yang tinggi (Keller et al,.2000), Hasil penelitian Rahim et. al (2012), menunjukkan bahwa dari enam varietas komersial yang
diuji di lapangan, belum ada yang tahan terhadap XOO patotipe IV. Oleh karena
itu pengendalian hayati berupa penggunaan rizobakteri indigenous penginduksi
ketahanan tanaman dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengendalian
penyakit hawar daun bakteri yang ramah lingkungan.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteri(PGPR) mampu memacu pertumbuhan
tanaman sekaligus mengendalikan patogen
tanaman sehingga mengurangi pemakaian
senyawa kimia sintesis secara berlebihan, baik dalam penyedia hara tanaman (biofertilizer) maupun dalam
pengendalian patogen tanaman(bioprotectan)
(Sutariati, 2006; Khaeruni et. al.
2010). Rhizobakteri selain mampu mengendalikan pathogen tular tanah juga
dilaporkan dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit virus dan
penyakit filosfer lainnya. Hasil kajian
Syair (2012), menunjukkan bahwa penggunaan rizobakteri isolat P1.1a dan PKLK5
yang diisolasi dari pertanaman padi sehat mampu memacu pertumbuhan dan
menginduksi ketahanan tanaman padi IR64 terhadap penyakit HDB pada skala rumah
kasa.
Oleh karena itu, untuk evaluasi kemampuan rizobakteri indigenous sebagai agensia
pemacu pertumbuhan dan penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit HDB
di skala lapangan perlu dilakukan untuk
dapat dijadikan acuan rekomendasi sebagai salah satu strategi pengendalian
penyakit HDB pada tanaman padi di Sulawesi Tenggara.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan
persawahan petani yang memiliki sejarah
endemik dengan penyakit HDB di Desa Puday Kecamatan Wonggeduku Kab.
Konawe. Penelitian akan berlangsung dari bulan Maret sampai Juni 20123.
Rancangan Percobaan
Penelitian di desain menggunakan Rancangan Faktorial yang
diatur dalam Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah jenis
rizobakteri (R), yang terdiri dari 4 taraf
perlakuan yaitu: Tanpa isolat rizobakteri (R0) ; isolat P11a (R1),
isolat PKLK5 (R2), dan kombinasi isolate P11a dan PKLK5 (R3). Faktor kedua
adalah Varietas Tanaman Padi yaitu : varietas IR64 (V1) dan, varietas Cisantana (V2), sehingga
terdapat 8 kombinasi perlakuan yang
diulang sebanyak 3 kali sehingga
diperoleh 24 unit (petak) percobaan.
Pelaksanaan Penelitian
(1) Biopriming
benih dengan rizobakteri
Tahapan ini dilakukan biopriming pada benih padi IR64 dan Cisantana
dengan rizobakteri sesuai dengan perlakuan sebagaimana yang telah dijelaskan
sebelumnya (Syair et. al., 2012).
(2) Persiapan
lahan
Lahan terlebih dahulu diolah dengan traktor lalu diratakan dengan garuh
dan dibuat petakan percobaan sebanyak 24 unit dengan ukuran 200 cm (p) x 150 cm
(l) x 30 cm (t). Jarak antara petak
dalam lajur yang sama 30 cm, sedangkan jarak antar lajur 100 cm (lihat lay out
percobaan).
(3).
Penanaman Benih.
Benih yang telah diberi
perlakuan biopriming terlebih dahulu diperam selama 2 hari hingga membentuk
tunas kecambah. Benih selanjutnya ditanam
di pot plastik berdiameter 15 cm yang telah diisi dengan tanah bercampur
pupuk kandang (4:1 v/v) yang telah disterilkan. Bibit yang telah siap pindah
tanam dicabut dan dibersihkan perakarannya dari sisa tanah yang melekat lalu
direndam dalam suspensi rizobakteri selama 30 menit sesuai perlakuan sebelum penanaman
dilakukan, sementara bibit tanpa perlakuan rizobakteri hanya direndam dalam air
bersih dengan waktu yang sama. Setelah perendaman bibit dalam suspensi
risobakteri selesai, langsung dilakukan penanaman maksimal 2 anakan perlubang
sesuai perlakuan dengan jarak tanaman 20 x 20 cm.
(4). Inokulasi
Patogen
Xanthomonas oryzaepvoryzae yang digunakan dalam penelitian
ini ialah isolat XOO patotipe IV hasil isolasi dari pertanaman padi di Sulawesi
Tenggara (Koleksi Lab. IHPT Unhalu). Penyiapan dilakukan dengan mensupensikan
isolat murni XOO umur 48 jam dalam akuades sterildengan konsentrasi 108 CFU/ml. Inokulasi dilakukan pada tanaman yang
berumur 45 hari setelah tanam
dengan 2 jenis metode pelukaan dengan gunting yang telah direndam dalam suspensi
patogen
(5).
Pengamatan
Pengamatan
terhadap respon perlakuan ditentukan pada 5 rumpun tanaman yang menyebar secara
diagonal pada setiap unit/petak perlakuan, sehingga secara keseluruhan terdapat
120 rumpun tanaman. Parameter yang
diamati meliputi :
(a) Jumlah
anakan
Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap
tanaman sampel di setiap unit percobaan
pada saat 2, 4 dan 6 minggu
setelah tanam.
Keterangan : I
= Intensitas serangan (%),
A = panjang daun
yang bergejala hawar pada daun sampel,
B = panjang
keseluruhan daun sampel
Pengamatan
dilakukan pada umur 2, 3 dan 4 minggu
setelah inokulasi pada 5 lembar daun pada 5 tanaman uji pada setiap unit
perlakuan.
(c) Jumlah
anakan
Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap tanaman
sampel di setiap unit percobaan pada
saat 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah semai pada
(d)
Hasil Panen.
Hasil panen yang di amati meliputi : jumlah malai,
berat malai pada saat panen, berat gabah kering panen dan berat gabah per 1000
butir
Data dianalisis dengan menggunakan
analisis ragam, apabila dalam analisis ragam terdapat pengaruh nyata, maka
dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf nyata α = 5 %.
II.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
HASIL
Dari hasil analisa data terhadap setiap perlakuan yang didasari oleh hasil
pengamatan dilapang,didapatkan hasil sebagai berikut :
a.
Pengaruh setiap perlakuan terhadap
rata-rata jumlah anakan
Hasil pengamatan
terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan
umur 2 mst – 6 mst dapat dilihat
pada tabel lampiran 1 – 3 dan hasil analisis sidik ragamnya pada tabel lampiran
1a – 3a.Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa,tidak terjadi perbedaan
nyata pada umur 2 mst terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan,namun pada
umur 4 mst terjadi perbedaan nyata,dimana perlakuan kombinasi isolat (R3) terhadap varietas uji (V1) dengan rata-rata jumlah anakan 17.800
memberikan pengaruh nyata terhadap
perlakuan V2R3,V1R1,V1R2,V2R0 dan V1R0, namun tidak berbeda nyata dengan
perlakuan V2R2 dan V2R1,sehingga diindikasikan ada hubungan interaksi antar
keduanya.Pada umur 6 mst,terjadi pengaruh nyata terhadap isolat R1 pada
varietas V2 dengan beberapa isolat lainnya,yaitu V1R1 dan V1R0, namun tidak
berbeda nyata dengan V1R3,V1R2,V2R2 dan V2R3. Apabila dikonversi setiap isolat terhadap jumlah anakan dan
pengaruhnya terhadap varietas uji (lihat tabel.a.2), nampak bahwa, pada umur 4
mst isolat R3 memberikan pengaruh nyata terhadap isolat R0,yaitu 16.0333, tapi
tidak berbeda nyata dengan isolat R1 dan isolat R2.Sedangkan pada umur 6
mst,terlihat bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh nyata terhadap R0,yaitu
18.7667 dan R0 15.6667,namun tidak berbeda nyata dengan R2 dan R3.
Terhadap varietas,keduanya tidak menunjukkan
perbedaan nyata,baik varietas IR.64 (V1) maupun varietas cisantana (V2). Hasil
uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap isolat terhadap perlakuan kelompok
rata-rata jumlah anakan dan pengaruh nyata antar isolat serta pengaruhnya
terhadap varietas, disajikan pada tabel a.1 dan tabel a.2 di bawah ;
Tabel a.1. Pengaruh
setiap perlakuan terhadap rata-rata jumlah anakan , umur 2 mst, 4 mst dan 6 mst
Perlakuan Rata2 DMRT
JA. 2 mst 0.05
|
Perlakuan Rata2 DMRT
JA. 4 mst 0.05
|
Perlakuan Rata2 DMRT
JA.6 mst 0.05
|
V2R3 6,9000 a
|
V1R3
17.800
a
|
V2R1 20.000a
|
V1R1 6.8000 a 2=8617
|
V2R2 15.333 ab 2=2.737
|
V1R3 19.267ab 2=3.003
|
V1R2 6.7000 a 3=9030
|
V2R1 15.067 ab 3=2.686
|
V1R2 19.000ab 3=3.147
|
V2R1 6.7000 a 4=9284
|
V2R3 14.267 b 4=2.948
|
V2R2 18.333ab 4=3.235
|
V2R2 6.6000 a 5=9456
|
V1R1 13.933 b 5=3.003
|
V2R3 17.933abc 5=3.295
|
V1R3 6.5000 a 6=9578
|
V1R2 13.267 b 6=3.042
|
V1R1 17.533abc 6=3.369
|
V1R0 6.4667 a 7=9666
|
V2R0 13.000 b 7=3.070
|
V1R0 16.467cb 7=3.369
|
V2R0 6.0667 a 8=9734
|
V1R0 12.933 b 8=3.091
|
V2R0 14.867c 8=3.392
|
Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom
yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a,
R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
Tabel a.2. Konversi
setiap isolat (R) terhadap rata-rata jumlah anakan dan pengaruhnya terhadap varietas uji umur 4
mst dan 6 mst.
Isolat(R) rata2 jlh anakan DMRT
4 mst 0.05
|
Isolat(R) Rata2 jlh anakan DMRT
6 mst
0.05
|
R3 16.0333a
R1 14.5000ab 2=1.284
R2 14.3000ab 3=1.346
R0 12.9667b 4=1.383
|
R1 18.7667a
R2 18.6667ab 2=2.460
R3 18.6000ab 3=2.578
R0 15.6667b 4=2.651
|
Varietas rata2 jlh anakan DMRT
4 mst 0.05
|
Varietas rata2 jlh anakan DMRT
6 mst 0.05
|
V1 14.4833a
V2 14.4167a 2=1.368
|
V1 18.0667a
V2 17.7833a 2=1.502
|
Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom
yang sama,tidak berbeda nyata pada uji
DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a,
R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
b.
Pengaruh setiap perlakuan isolat terhadap
perkembangan HDB (IS) pada varietas uji
Hasil pengamatan intensitas serangan (tabel
lampiran4 - 6) dan hasil analisis sidik ragam (tabel lampiran 4a – 6a)
menujukkan bahwa, terjadi perbedaan nyata pada setiap minggu pengamatan,kecuali
pada pengamatan 87 hst tidak memberikan pengaruh nyata antar varietas.Pada umur 59 hst dan 73
hst terjadi pengaruh nyata dan sangat nyata antar setiap perlakuan,baik
perlakuan kelompok,kombinasi perlakuan,varietas,isolat dan interaksinya. Hasil
uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap perlakuan terhadap perkembangan HDB (IS) pada varietas uji,disajikan pada tabel b.1 ;
Tabel b.1. Pengaruh setiap perlakuan terhadap perkembangan HDB (IS) pada varietas uji,umur 59 hst,73 hst dan 87 hst.
Perlakuan Rata2 DMRT
IS (%) 0.05
59 Hst
|
Perlakuan Rata2 DMRT
IS (%) 0.05
73 Hst
|
Perlakuan Rata2 DMRT
IS (%) 0.05
87 Hst
|
V2R0 10.5467a
|
V1R0 23.783a
|
V2R0 40.500a
|
V1R0 9.6100ab 2=1.816
|
V2R0 21.533a 2=3.479
|
V1R0 34.647b 2=4.015
|
V1R2 8.6633abc 3=1.903
|
V1R2 14.647b 3=3.646
|
V1R1 22.953c 3=4.207
|
V1R3 8.4133bc 4=1.957
|
V1R1 14.390b 4=3.794
|
V2R3 19.743cd 4=4.325
|
V1R1 8.3267bc 5=1.993
|
V2R2 13.673b 5=3.818
|
V1R2 19.123cd 5=4.405
|
V2R3 7.6733bc 6=2.019
|
V2R3 13.270b 6=3.867
|
V2R2 18.827cd 6=4.462
|
V2R1 7.2100cd 7=2.037
|
V1R3 12.913b 7=3.903
|
V2R1 18.640cd 7=4.503
|
V2R2 5.6233d 8=2.051
|
V2R1
12.507b
8=3.930
|
V1R3 18.300d 8=4.535
|
Ket. : - Angka yang
diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata
pada uji DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a,
R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
Tabel b.2. Konversi setiap isolat terhadap
intensitas serangan (%) HDB dan
pengaruhnya terhadap varietas,umur 59 Hst,73 Hst dan 87 Hst.
Isolat(R) IS(%) DMRT
59 Hst
0.05
|
Isolat(R) IS(%) DMRT
59 Hst
0.05
|
Isolat(R) IS(%)
DMRT
59 Hst
0.05
|
R0 10.0783a
R3
8.0433b 2=1.284
R1 7.7683b 3=1.346
R2
7.1433b 4=1.383
|
R0 22.658a
R2
14.160b 2=2.460
R1 13.448b 3=2.578
R3
13.092b 4=2.651
|
R0 37.573a
R1 20.797b 2=2.839
R3 19.022b 3=2.975
R2 18.975b 4=3.058
|
Varietas IS(%) DMRT
59 Hst 0.05
|
Varietas IS(%)
DMRT
59
Hst 0.05
|
Varietas IS(%) DMRT
59 Hst 0.05
|
V1 8.7533a
V2 7.7633b 2=9080
|
V1 16.4333a
V2
15.2458a 2=1.740
|
V2 24.4275a
V1 23.7558a 2=2.007
|
Ket. : - Angka yang
diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak
berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 =
isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
Hubungan antara perlakuan kelompok(tabel b.1) dan
konversi setiap isolat serta pengaruhnya terhadap varietas (tabel.b.2),nampak
bahwa,pada umur 59 Hst, konversi isolat R2
memberikan intensitas serangan HDB terendah dibanding
isolat lainnya,yaitu 7.1433%, dan
berdasarkan hasil analisis DMRT menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan
isolat R0.namun tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 da R3.Apabila
dihubungkan dengan perlakuan pada tabel .b.1,
terlihat pengaruh nyata antara isolat R2 pada varietas cisantana (V2)
memberikan intensitas serangan terendah,yaitu 5,6233% dibanding perlakuan V2R3, V1R1, V1R3, V1R2, V1R0
dan V2R0.Pengaruh nyata lainnya terjadi pada varietas,dimana intensitas
serangan HDB pada varietas cisantana (V2) lebih rendah dibanding varietas IR 64
(V1).
Umur 73 HST intensitas serangan
terendah terjadi pada varietas cisantana dengan
isolat P11a (V2R1) yaitu 12,51%, namun
tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3, V2R3,
V2R2, V1R1 dan V1R2.
Intensitas serangan tertinggi terjadi
pada semua varietas yang diujikan tanpa isolat (V1R0 dan V2R0) yang
masing-masing menunjukkan angka seranganX.
oryzaepv. oryzae
yaitu 23,8% dan 21,5% yang berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan yang
diujikan.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat
nampak ketiga isolat,yaitu R1,R2 dan R3 tidak menunjukkan perbedaan
nyata,tetapi isolat R3 menunjukkan intensitas serangan yang lebih rendah.
Pengamatan 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan
V1R3 memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu
18,30% yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan V1R2, V2R1, V2R2, V2R3, tetapi
berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada pengamatan ini persentase
intersitas serangan tertinggi terjadi
pada perlakuan V2R0 yaitu 40,5% yang berbeda
nyata dengan perlakuan lainnya. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap
isolat,nampak isolat R2 menunjukkan intensitas`serangan yang lebih rendah,
yaitu 18.975% diikuti
isolat R3 19.022, R1 20.797 dan R0 37.573.
c.
Pengaruh perlakuan isolat terhadap jumlah
malai, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji.
Hasil pengambilan
sampel terhadap jumlah malai,berat malai, berat gabah kering panen dan berat
gabah 1000 biji serta sidik ragamnya pada semua perlakuan dapat dilihat pada tabel
lampiran 7ab, 8ab,9ab dan 10ab..Hasil
analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa, dari 5 parameter perlakuan yang
diujikan terhadap jumlah
malai,menunjukkan perbedaan yang nyata
dan sangat nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan.Pengaruh
yang sangat nyata lainnya terjadi pada berat malai dan berat gabah kering panen,yaitu
parameter perlakuan kelompok,isolat dan interaksinya.Sedangkan pada berat gabah
1000 biji tidak memberikan pengaruh yang
nyata antar parameter uji, kecuali pada perlakuan isolat. Hasil
uji DMRT taraf 0.05 pengaruh nyata antara perlakuan isolat terhadap jumlah
malai, berat malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji disajikan
pada tabel.c.1 dibawah.
Tabel.c.1. Pengaruh setiap perlakuan isolat
terhadap jumlah malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji.
Perlakuan Jlh malai DMRT
0.05
|
Perlakuan Berat malai DMRT
(g) 0.05
|
V2R2 25.4000a
V1R3 23.6667ab 2=1.792
V2R1 23.0667b 3=1.878
V2R3 21.8000b 4 =1.931
V2R0 17.8667c 5=1.967
V1R2 17.7333c 6=1.992
V1R1 16.4667c 7=2.010
V1R0 16.2000c 8=2.025
|
V2R2
45.200a
V1R3
42.800a
2=3.196
V2R1
42.733a
3=3.348
V2R3
42.133a 4=3.443
V2R0
37.867b
5=3.507
V1R2
36.933bc 6=3.552
V1R1
34.233cd 7=3.585
V1R0 32.467d 8=3.610
|
Perlakuan Brt gabah DMRT
krg panen (g) 0.05
|
Perlakuan Brt gabah DMRT
1000 bj (g) 0.05
|
V2R1 1686.67a
V2R3
1683.33a
2=92.0
V1R2 1603.33ab 3=96.0
V1R3 1556.67bc 4=99.1
V2R2 1525.00bcd 5=100.9
V1R1 1505.00bcd 6=102.2
V2R0 1488.33cd 7=103.2
V1R0 1435.00d 8=103.9
|
V2R3 28.000a
V2R2 27.667ab 2=3.072
V1R1 27.667ab 3=3.219
V1R3 27.667ab 4=3.310
V1R2 26.667ab 5=3.371
V2R1 26.667ab 6=3.415
V2R0 24.667ab 7=3.446
V1R0 24.333b 8=3.470
|
Ket. : - Angka yang
diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak
berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 =
isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
Tabel. c.2. Konversi
setiap isolat terhadap jumlah malai,berat malai,berat gabah kering panen dan
berat gabah 1000 biji serta pengaruhnya terhadap varietas.
Isolat JM
DMRT
0.05
|
Isolat BM DMRT
(g) 0.05
|
Isolat BGKP DMRT
(g) 0.05
|
Isolat BG1000
DMRT
Biji(g)
0.05
|
R3
22.7333a
R2
21.5667a 2=1.267
R1
19.7667b 3=1.328
R0
17.0333c 4=1.365
|
R1
42.433a
R2
40.900a 2=2.260
R3
40.333a 3=2.368
R0
33.350b 4=2.434
|
R3
1620.00a
R1 1595.83a 2=65.03
R2 1564.17a 3=68.14
R0
1461.67b 4=70.06
|
R3
27.833a
R2
27.167a 2=2.172
R1
27.167a 3=2.276
R0 24.500b 4=2.340
|
Var. JM DMRT
0.05
|
Var. BM DMRT
(g) 0.05
|
Var. BGKP DMRT
(g) 0.05
|
Var. BG 1000
DMRT
Biji(g) 0.05
|
V2 22.0333a
V1
18.5167b 2=8961
|
V2 39.7750a
V1 38.7333a 2=1.598
|
V2 1595.83a
V1 1525.00b 2=45.98
|
V2 26.7500a
V1 26.5833a 2=1.536
|
Ket. : - Angka yang
diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak
berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05
-
V1 = varietas
IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 =
isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
- JM=jumlah malai,BM=berat
malai,BGKP=berat gabah kering panen,BG=berat gabah 1000 biji.
Tabel.c.1
diatas memperlihatkan jumlah
malai tertinggi terjadi pada perlakuan V2R2 dengan rata-rata
jumlah malai 25,40 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3 namun berbeda nyata dengan perlakuan V2R1 dan V2R3, sedangkan perbedaan yang sangat
nyata terjadi pada perlakuan V1R0, V1R1, V1R2 dan
V2R0.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat
(lihat tabel c.2) nampak bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang sangat nyata
terhadap isolat R1 dan R0,yaitu rata-rata jumlah malai 22.7333,namun tidak
berbeda nyata dengan isolat R2. Terhadap varietas, keduanya memberikan pengaruh
yang sangat nyata,dimana varietas cisantana (V2) berbeda sangat nyata dengan varietas
IR 64 (V1).
Pengaruh
isolat terhadap berat malai pada masing – masing perlakuan (lihat tabel.c.1) memperlihatkan bahwa ,
perlakuan V2R2 memberikan pengaruh yang sangat nyata dengan perlakuan
V2R3,V1R2,V2R0 dan V1R0,dengan nilai rata-rata 45.200,tapi tidak berbeda nyata
dengan perlakuan V1R3,V1R1 dan V2R1. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap
isolat,nampak bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap
isolat R0,dengan nilai rata-rata 42.433,tapi tidak menunjukkan perbedaan nyata
dengan isolat R2 dan isolat R3.Pada uji berat malai ini,kedua varietas tidak
menunjukkan perbedaan nyata.
Berat
gabah kering panen,memperlihatkan perlakuan V2R1 memberikan
rata-rata
berat gabah kering panen 1686.67 gram yang berbeda tidak nyata
dengan perlakuan V2R3 dan V1R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V2R0
danV1R0 yang menunjukkan nilai rata-rata terendah yaitu 1488.33
gram dan 1435,0 gram.
Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (lihat tabel c.2) nampak
bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang nyata terhadap R0,yaitu 1620.00 gram,tapi
tidak mnunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 dan R2. Pada uji berat gabah
kering panen ini,kedua varietas memperlihatkan pengaruh nyata,dimana varietas
cisantana (V2) memberikan pengaruh nyata terhadap varietas IR 64 (V1).
Pengaruh
isolat terhadap berat gabah 1000
biji (lihat tabel .c.1) memperlihatkan,
perlakuan V2R3 memberikan nilai rata-rata tertinggi, yaitu
28,000 gram yang berbeda tidak nyata dengan
hampir semua perlakuan yang diujikan, tetapi berbeda sangat nyata dengan
perlakuan V1R0 yang menunjukkan berat gabah 1000 biji terendah dengan nilai
rata-rata 24,333 gram.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap
isolat (tabel.c.2),nampak isolat R3 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap
isolat R0,yaitu 27.833 gram,sedangkan isolat R0 memperlihatkan berat gabah 1000
biji terendah, yaitu 24.500 gram.Dengan isolat R2 dan R1 tidak menunjukkan
perbedaan nyata. Pada uji berat gabah
1000 biji ini,kedua varietas tidak memberikan pengaruh nyata.
A. Pembahasan
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa
semua varietas padi yang diinokulasikan X.
oryzaepv. oryzae(XOO)
memperlihatkan gejala penyakit hawar daun bakteri (HDB),tergantung
ketahanan varietas dan perlakuan isolat. Gejala ini ditandai dengan
munculnya bercak memanjang dengan tepi bergelombang dari ujung daun yang
berkembang sepanjang tepi daun kemudian berkembang menjadi hawar daun dan warna
berubah menjadi kuning pucat (Mew, 1988; Liu et al., 2006, Agustiansyah, 2011).
Pengamatan penyakit hawar daun bakteri hasil
inokulasi Xoo terhadap varietas uji,mencakup,pengaruh
setiap isolat terhadap jumlah anakan,
perkembangan intensitas serangan,jumlah malai,berat malai, berat
gabah kering panen, berat gabah 1000 biji dan pengaruhnya terhadap varietas.
Hasil pengamatan pada tabel.a.1
menunjukkan bahwa, pada pengamatan 2 MST tidak memberikan
pengaruh nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan. Namun pada pengamatan 4
MST jumlah anakan tertinggi ditunjukkan pada perlakuan V1R3 yaitu dengan
rata-rata 17,800 yang berbeda sangat nyata dengan
perlakuan tanpa isolat rizobakter. Sedangkan pada pengamatan 6 MST jumlah
anakan tertinggi diperlihatkan pada
perlakuan V2R1 dengan rata-rata jumlah anakan 20,000 yang tidak berbeda nyata dengan
perlakuan V1R2, V1R3 dan V2R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan
V2R0 yang menunjukkan jumlah anakan terendah dengan rata-rata 14,867.Apabila setiap isolat dikonversi dan dihubungkan
dengan kombinasi perlakuan, nampak bahwa,pada umur 4 Mst,kombinasi isolat P11a
dan PKLK5 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap perlakuan tanpa rhizobakteri,namun
pada umur 6 Mst,isolat P11a memperlihatkan rata-rata jumlah anakan
tertinggi,yaitu 18.7667,tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi
isolat dan isolat PKLK5. Dari hal tersebut,dapat diindikasikan bahwa,diantara
isolat-isolat rizobakter yang digunakan, isolat P11a memberikan respon jumlah anakan
terhadap varietas cisantana dan
kombinasi isolat P11a + PKLK5 terhadap varietas IR.64. Hasil penelitian Thakuria et al., (2004) menyatakan bahwa secara langsung rizobakter berkemampuan
dalam menyediakan dan memobilisasi penyerapan unsur hara dari dalam tanah,
melarutkan fosfor dan menghasilkan hormon tumbuh sehingga dapat memacu
pertumbuhan tanaman. Sedangkan rhizobakteri
yang memiliki kemampuan memacu pertumbuhan tanaman digolongkan sebagai
rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (Tanuta, 2006). Selain itu penurunan
jumlah anakan yang diakibatkan oleh inokulasi X. Oryzaepv. Oryzae dengan pelukaan daun dengan menggunakan gunting yang
telah dicelupkan suspensi patogen terlebih dahulu memungkinkan patogen dapat
masuk dan menginfeksi jaringan tanaman dengan cepat sehingga dapat mengganggu
metabolisme dalam sel dan jaringan tanaman yang berpengaruh terhadap
pembentukan anakan dan jumlah daun.
Hasil
pengamatan menunjukkan, terjadi pengaruh pada setiap
perlakuan pada umur 59 HST dimana pada varietas cisantana dengan isolat PKLK5
(V2R2) menunjukkan intensitas penyakit terendah, yaitu 5,6233%,
sedangkan untuk varietas cisantana tanpa isolat (V2R0) menunjukkan intensitas
penyakit tertinggi yaitu 10,5467%. Namun hal ini tidak berbeda
nyata dengan varietas IR64 tanpa isolat (V1R0) yang menunjukkan intensitas
penyakit yaitu 9,6100%. Hal ini menunjukkan bahwa,
tingkat ketahanan tanaman padi varietas cisantana yang lebih baik dengan
perlakuan rizobakter dibandingkan pada tanaman padi tanpa perlakuan rizobakter
yang mengindikasikan bahwa perlakuan rizobakter pada benih mampu menginduksi
ketahanan tanaman secara sistemik terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae pada umur tersebut.
Induksi ketahanan sistemik ialah fenomena terjadinya peningkatan ketahanan
tanaman terhadap infeksi patogen setelah terjadi rangsangan dari luar.
Ketahanan ini adalah perlindungan tanaman bukan untuk mengeliminasi patogen
tetapi lebih pada aktivitas dari mekanisme pertahanan tanaman (Sticher et al.,1997; Van loon et al., 1998; Durrant nan Dong, 2004).
Hasil
penelitian Valled et al., (2004) menjelaskan terjadi
peningkatan ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai yang diinduksi
dengan perlakuan pada benih sebelum tanam.
Intensitas penyakit pada petak yang diberi perlakuan sebesar 17%,
sementara yang tidak diberi perlakuan,hasilnya mencapai 39%,
peningkatan ketahanan tanaman tersebut berkaitan dengan
terjadinya peningkatan akumulasi asam salisilat di dalam jaringan tanaman, hal
ini dibuktikan dengan terjadinya peningkatan kandungan asam salisilat pada
tanaman jagung yang memperlihatkan ketahanan terhadap penyakit bulai setelah
diinduksi melalui perlakuan pada benih sebelum ditanam.
Hasil pengamatan intesitas penyakit (lihat tabel
b.1) pada umur 73 HST menunjukkan bahwa,
intensitas penyakit terendah terjadi pada perlakuan varietas
cisantana dengan isolat P11a (V2R1) yaitu 12,507%, dimana perlakuan tersebut lebih tahan terhadap
serangan X. oryzae pv. oryzae meskipun tidak berbeda
nyata dengan beberapa perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Rahim et al., (2010)
melaporkan bahwa varietas padi cisantana lebih tahan terhadap infeksi X. oryzaepv. oryzae dibandingkan
dengan varietas inpari 10 dan IR64. Tingkat ketahanan varietas yang diuji terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae diduga dipengaruhi oleh
struktur morfologi permukaan daun dimana varietas cisantana memiliki permukaan
daun yang halus dibandingkan dengan varietas IR64, serta pengaruh dari
pemberian isolat rizobakter pada varietas yang diujikan di lapangan dimana penelitian
lainnya menjelaskan bahwa perlakuan interaksi rizobakteri P11a dengan inokulasi
X. oryzae pv. oryzae menggunakan
metode pencelupan, secara nyata mampu menginduksi ketahanan tanaman padi
terhadap penyakit hawar daun dengan keparahan penyakit 17,22% (Fitriani, 2013).
Hasil pengamatan pada umur 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan V1R3
memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu 18,30% dimana perlakuan ini
tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2R1 dan beberapa perlakuan lainnya. Apabila masing-masing isolat dikonversi berdasarkan umur
tanaman,terlihat bahwa,pada umur 59 Hst ,isolat PKLK5 (R2) menunjukkan
intensitas serangan terendah dibanding isolat lainnya,yaitu 7.1433%, Hal ini sinkron
dengan interaksi antara varietas dengan isolat,dimana isolat PKLK5 memberikan respon positif terhadap
varietas cisantana (V2) dalam menekan intensitas serangan X00. Umur 73 Hst, terlihat konversi isolat R3
memberikan intensitas serangan terendah, yaitu 13,092%, tapi
tidak berbeda nyata dengan isolat P11a (R1) dan isolat PKLK5 (R2),namun apabila
dilihat dari interaksi antara varietas dengan isolat,nampak bahwa, isolat P11a
(R1) memberikan respon ketahanan Xoo terhadap varietas cisantana (R2).
Sedangkan pada umur 87 Hst,memperlihatkan konversi isolat PKLK5 (R2) memberikan
intensitas terendah,yaitu 18,975%.
Hal ini
mengindikasikan bahwa pada pengamatan ini pengaruh interaksi antara varietas
dengan isolat rizobakteri yang diberikan dapat bersimbiosis dengan baik
sehingga dapat menurunkan tingkat intensitas seranganX. oryzaepv. oryzaepenyebab penyakit HDB.
Berdasarkan hasil sidik ragam (dilihat pada
tabel 1) pada variabel pengamatan jumlah malai menunjukkan berbeda sangat nyata
terhadap semua perlakuan. Hasil pada tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah malai
tertinggi diperlihatkan pada perlakuan V2R2 yaitu 25,40 yang tidak berbeda
nyata dengan perlakuan V1R3 yaitu 23,67 namun berbeda sangat nyata dengan
perlakuan V1R0 dan V2R0. Sedangkan pada pengamatan berat gabah kering panen
perlakuan V2R3 menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu 1683,33 g yang berbeda
sangat nyata terhadap perlakuan semua
varietas tanpa isolat rizobakter. Pada pengamatan Berat gabah 1000 biji hasil
terbaik ditunjukkan pada perlakuan V2R3 yaitu 28,00 yang berbeda sangat nyata
dengan perlakuan V1R0 yaitu 24,30. Hal ini membuktikan bahwa pemberian
isolat rizobakter sangat berpengaruh
terhadap produksi tanaman padi yang terserang X. oryzae pv. oryzae. Serangan X.
oryzaepv. oryzae
pada tanaman padi yang menyebabkan penyakit HDB akan menghambat pertumbuhan
pada tanaman padi, karena adanya pengurangan jumlah daun dan dapat mengganggu
terjadinya proses fotosintesis sehingga secara tidak langsung menurunkan
produksi melalui pengurangan jumlah malai yang terbentuk, berat gabah kering
panen dan berat gabah 1000 biji. Penurunan produksi yang diakibatkan oleh
serangan X. oryzaepv. oryzae dapat mencapai 50%
sehingga perlu dilakuan pemantauan secara berkala untuk mewaspadai terjadinya
serangan X. oryzae pv. oryzae yang dapat menurunkan
produksi tanaman padi (Manik, 2005).
V.
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Perlakuan rizobakteri mampu menginduksi
ketahanan tanaman padi IR64 dan Cisantana terhadap X. oryzaepv. oryzaejuga
2. Perlakuan rizobakteri mampu meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman padi di lapangan
3.
Perlakuan
campuran rizobakteri PKLK5 dan P11.a, cenderung meningkatkan induksi ketahanan
padi varietas IR64 terhadap X.
oryzae pv. oryzaedi lapangan dibandingkan perlakuan
rizobakteri secara tunggal, perlakuan ini juga cenderung memperlihatkan
pertumbuhan dan produksi tanaman yang lebih baik dibandingkan pada perlakuan
rizobakteri secara tunggal.
B. Saran
Perlu dilakukan sosialisasi kepada petani padi sawah untuk
penggunaan rizobakter agar dapat menekan penurunan hasil produksi padi yang
diakibatkan seranganX.
oryzaepv. oryzaepenyebab
hawar daun bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Keller, B.C. Feuillet, and M. Messmer. 2000. Basic conceps an
aplication in resistance breeding. Pp:01 – 160. In : A.J. Slusarenko, R.S.S. Fraser, L.C. van Loon (eds.). Mechanisms of Resistance to
Plant Diseases.Kluwer Academic Publisher. London.
Khaeruni A., G.A.K. Sutariati, S. Wahyuni. 2010. Karakterisasi dan uji aktifitas bakteri rizosfer
lahan ultisol sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dan agensia hayati cendawan patogen tular tanah
secara in-vitro. Jurnal Hama dan Penyakit Tanaman TropikaVol 10(2):123-130
Khaeruni A., T. Wijayanto,
Syair. 2011. Determinasi Patotipe dan Virulensi Xanthomonas oryzae pv. oryzae,
Serta Pencarian Sumber Gen Ketahanan Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri Pada
Padi Lokal di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Laporan Kemajuan Penelitian
Fundamental. Lembaga Penelitian Universitas Haluoleo. Kendari.
Rahim, A. Khaeruni, T. Wijayanto. 2012. Reaksi ketahanan beberapa
Varietas Padi Komersial Terhadap Xanthomonas
oryzae pv. oryzae isolat Sulawesi
Tenggara. Makalah pada Seminar Nasional
Bidang Perlindungan Tanaman, Kendari, 21-22 Mei 2012.
Rao, K.K,. K.K. Jena, and M.L. Narasu. 2003. Molecular Tagging of a
New Bacterial Blight Resistence Gene in Rice Using RAPD and SSR Markers (On
line) http//dspace.irri.org-8080/dspce/bitst-ream/123456789/1308/1/ Kameswara
%20RAO,%20K,%20Molecular% 20tagging.pdf.
Sutariati, G A K., 2006. Perlakuan
Benih dengan Agens Biokontrol untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa,
Peningkatan Hasil dan Mutu Benih Cabai, Cendawan Patogen. Agriplus. 15:272-281.
Syair, Rahman A, Asniah, Khaeruni
A. 2012. Pemanfaatan rizobakteri indigenous untuk memacu pertumbuhan dan menginduksi
ketahanan padi IR64 terhadap penyakit hawar daun bakteri. Laporan hasil
penelitian BOPTN Universitas Haluoleo